Saat selesai
shalat berjamaah, aku dan adik ku mengangkat kedua tangan mengharap belas kasih
allah swt. Aku terasa bahagia, meski rumah masih kusewa, meski kerja masih tak tetap. Tapi dengan ketulusan
aku dan adikku semua terasa ringan. Bak ku angkat kapas ringan dengan satu jari
telunjuk. Kami begitu harmonis meski kami tinggal bukan tempat asal kami.
Aku Ridwan, yang
tak sempat kuselesaikan belajar dibangku SMA. Adiku Rizal, ia
hanya lulusan SMP tanpa bisa melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi. Dan hanya
berbekal ijazah ini, kami beranikan untuk merantau ke kota
metropolitan Jakarta.
Kami bekerja disebuah pabrik sepatu didaerah timur Jakarta. Dengan gaji pas-pasan kami atur
sedemikian mungkin agar tertutup tangungan tanggungan hidup kami dikota Jakarta ini.
Hari demi hari,
telah kami lewati. Tidak terasa lima
tahun kami bersama meski kadang terselip keluh kesah ditengah tengah kami. Dan
aku bersyukur Allah mengabulkan doaku. Hingga karier ku pun meningkat. Kini aku
menduduki posisi supervisior di department produksi yang tugasnya memantau
kerja anak buahku. Tapi tidak dengan adikku. Ia masih sebagai buruh pabrik
biasa yang gajinya jauh beda denganku.
Suatu hari aku
berdoa di penghujung doa sholatku “Ya Allah, sesungguhnya engkau maha tahu isi
hati hamba. Hamba sadar dengan bertambahnya usia hamba, hamba selalu khilaf dan
lalai dalam hidup. Ya allah, pertemukanlah hamba dengan jodoh hamba ya allah,
sehingga hamba tidak terbelenggu dan terperangkap dalam jebakan syaitan yang
terkutuk. Amiin !!!”
Aku terus berdoa,
berharap allah mengabulkan doaku dengan mendatangkan jodoh yang diridhainya.
Alhamdulillah doaku terkabul. Jodohku tidak jauh, ia adalah Rani anak general
manager ditempatku bekerja. Dan otomatis, karier ku meningkat. Akupun diangkat
menjadi assisten general manager yang tak lain adalah bapak mertuaku. Aku
berhasil membeli rumah mewah dan nyaman berkat doa dan ikhtiarku.
Aku sedikit
bingung dengan adikku Rizal. Ibadah telah ia laksanakan dengan tekun, namun
tidak ada perubahan dalam hidupnya. Pada suatu malam, aku menghampiri rizal
yang sedang berbaring ditempat tidur. “Zal … !!!” Sapa ku “Eh, iyah kak !”
Rizal terbangun dari tidurnya dan duduk disebelah ku. “Kamu harus lebih khusuk
dalam berdoa yah zal, harus lebih ditingkatkan lagi ibadahnya. Agar semua
doa-doamu terkabul.” Rizal hanya tertunduk diam, sangat khidmat mendengar
nasihatku sepertinya.
Aku yang saat
itu bingung atas diri rizal, bertanya kenapa doaku selalu dikabulkan, sementara
doa rizal sedikit lama terkabulnya. Apa yang salah dengan adikku itu? Kurang
khusuk kah dia?
Pagi ini, aku
berangkat seperti biasanya “Mas, rizal sepertinya sakit. Dari semalam ia tidak
keluar kamar. Coba mas tengok dia. Ajak ia kedokter mas” Ucap istriku sambil
menyentuh bahu kananku. Aku bergegas menuju kamar rizal, pintu kamar rizal tak
terkunci. aneh ia tak bergerak sedikitpun. Kuhampiri ia lebih dekat lagi. “Zal
… Zal … kamu tidak kerja?” Tanyaku sambil berusaha membangunkan ia dari
tidurnya. Berulang kali usahaku untuk membangunkannya, tapi ia tak juga bangun.
Aku
mendekatinya, inisiatifku untuk memegang tangannya, dan mengecek nadinya.
“Inalillahi Wainaillahi Radziun” secepat itukah rizal pergi meninggalkan aku ya
allah, “Rizal ,,…….!!!!!” Teriakkanku sambil memeluk tubuh rizal yang tak
bernyawa. Rani berlari menghampiri aku dan jasad Rizal. Rizal, adik
seperjuanganku selama dijakarta telah pergi terlebih dahulu. Dengan tangis yang
keluar, aku bayangkan saat-saat berjuang melawan hidup dikakarta ini.
Rizal, semoga
engkau diterima disisi allah swt. Kakak disini mendoakanmu agar engkau tenang
disana. Engkau adalah adik terbaikku zal. Kita lewati masa-masa susah bersama.
Kita bersama dalam susah maupun senang. Tanpa diduga diusia ke 23 engkau lebih
dulu berpulang keramatullah.
Satu hari
kepergian rizal, aku masih merindukan sosok adik sepertinya. Sengaja ku pulang lebih
awal. Karena bayang bayang rizal masih saja ada difikiranku. Senyumnya,
ketekunannya dalam beribah, dan kesabarannya dalam menghadapi cobaan yang terus
datang kepada kami saat kami berjuang melawan beratnya hidup dikota Jakarta ini.
Kupandangi foto
rizal yang tergantung didinding kamarya, kurapihkan buku-buku yang berbaris
rapi diatas lemari kecil milik rizal. Kurapihkan sarung, sajadah, dan peci
hitam rizal yang tersusun di atas tempat tidurnya. Saat itu kutemukan selembar
kertas terlipat. Ku buka pelan dan kubaca isi di kertas itu “Ya allah, ampunilah dosa kak Ridwan,
terangkanlah jalannya ya allah, kabulkan segala doa-doanya, beri ia kesehatan
dan kekuatan dalam menjalani hidup. Karena kak rizal, aku jadi tahu arti sebuah
perjuangan hidup. Aku rela menukarkan kebahagiaanku untuk kak Rizal ya allah.
Kak rizal lah yang sudah memberiku motivasi untuk lebih berani dan maju.”
Detak jantungku
tak berirama, air mata berlinang tetes demi tetes membasahi pipi seorang kakak
yang sok suci ini. Aku telah menilai rizal sebelah mata. Ternyata semua
kebahagiaan rizal telah ditukar denganku. Keberhasilanku adalah doa dari adikku
yang baik itu. Ya allah, terkutuklah aku yang menyia-nyiakan adik sebaik rizal.
Teriakku memanggil kini takkan ada artinya, rizal telah pergi. Ternyata kertas
ini yang selalu dibaca rizal setelah shalat. Isinya membuatku ingin menukar aku
saja yang pergi duluan jangan rizal. Astagfirullah
al adzim
Buat saudarku,
janganlah kau menganggap segala keberhasilan yang kau capai adalah murni hasil
kerja kerasmu. Jangan sombong dan besar kepala atas semua kesuksesan yang engkau
capai. Karena engkau mungkin tidak tahu siapa orang yang paling berjasa dibalik
kesuksesan kesuksesan itu.
NB :
Maaf yah, nulisnya agak amburadulll !!! Baru belajar juga sih ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar