Senin, 11 Juli 2016

Budaya Maritim Indonesia



Bicara tentang budaya maritim yang di Indonesia, kita tidak boleh terlepas daripada nasib nelayan dan daerah pesisir. Mereka yang berada di dalam negara yang merupakan negara kepulauan dengan kekayaan sumber daya kelautan yang melimpah adalah garda terdepan dalam memajukan maritim Indonesia. Indonesia memiliki lautan yang luasnya mencapai 5,8 juta km² dan garis pantai sepanjang ±95,181 km². Kitapun sebagai warga negara Indonesia pastinya sudah tahu bahwa zaman dahulu jalur transportasi satu-satunya untuk menuju negeri lain adalah dengan melalui jalur perairan. Sehingga tidak heran, bangsa Indonesia dijuluki sebagai bangsa maritim. Telah terbukti pada zaman kerajaan Majapahit dan Sriwijaya yang berjaya di masanya. Kerajaan-kerajaan tersebut memiliki eksistensi yang tinggi di bidang transportasi laut. Hal tersebut tercapai karena visi kemaritiman yang ditanamkan pada kerajaan tersebut.
Masih banyak lagi contoh kejayaan masa lalu yang berasal dari maritim Indonesia. Untuk hal tersebut, bukankah sudah ada lembaga pemerintah yang mengurusi masalah kelautan? Lalu kenapa masih saja laut itu terpinggirkan? Apakah konsep “pinggiran” dan “pusat” yang memandang laut sebagai daerah pinggiran masih terjalankan? Sehingga laut dan budaya maritim Indonesia selalu terpinggirkan? Padahal sudah kita ketahui bahwa Indonesia memiliki luas lautan lebih dari 5 juta km2. Belum lama ini Presiden Negara Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo mencetuskan kembali visi kemaritiman terhadap Indonesia dengan konsep Poros Maritim Dunia. Tentu konsep tersebut tidak dicetuskan secara abal-abal, melainkan telah ditelaah terlebih dahulu dari berbagai aspek. Disamping Indonesia kaya akan maritim yang dimiliki, sehingga sangat mendukung sekali konsep Poros Maritim Dunia bukan berarti tidak ada ancaman atau kencala yang akan berpengaruh terhadap penanaman budaya maritim di Indonesia. Beberapa kendala yang mungkin bisa terjadi seperti generasi muda yang telah banyak terpengaruh oleh budaya luar.
Dikhawatirkan, jika kultur budaya luar terus menerus tertanam dalam fikiran para generasi muda Bangsa Indonesia, maka nantinya mereka akan buta akan kultur nusantara. Sehingga akan sulit untuk menanamkan budaya maritim serta pelestariannya, sedangkan budaya maritim merupakan kultur penting dalam sejarah Indonesia dan merupakan jati diri Indonesia. Tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan, begitu juga dengan kendala seperti ini. Penyelesaian masalah seperti ini misalnya pemerintah dapat mengadakan sosialisasi dan penyuluhan guna menanamkan kesadaran akan budaya maritim secara langsung. Penanaman seperti ini dapat disampaikan dalam lembaga-lembaga pendidikan khususnya sekolah, media elektronik, media sosial, iklan, keluarga, dll. Semakin banyak penyampaian, maka pastinya lambat laun para generasi muda ini akan terbuka fikirannya secara psikologis terhadap budaya negara khususnya budaya maritim Indonesia.
Kalau bukan generasi muda yang melestarikan siapa lagi? Budaya maritim merupakan sarana dalam membangun kembali peradaban bangsa Indonesia yang maju. Etos kerja masyarakat maritim yang dibangung nenek moyang dulu diharapkan bisa memperkuat NKRI, dengan menjadikan tanah dan air sebagai suatu kekuatan, yaitu negara maritim. Kita biasanya terbalik, menganggap Indonesia adalah daratan yang kebetulan ada perairan-perairan yang menyelingi. Paradigma yang terbalik ini membuat kita menganggap bahwa perairan-perairan Indonesia sebagai pemisiah antara pulau dau suku di Indonesia, bukan merupakan pemersatu. Menurut Rochmin Dahuru (2014), sektor maritim ini apabila digarap dengan baik, berpotensi membuka 40 juta lapngan pekerjaan di Indonesia. Sehingga tidak perlu lagi kita menigirim TKI menjadi jongos di luar negeri.
Kepastian perundang-undangan di bidang kelautan juga perlu disusun dan ditetapkan sebagai jaminan yang akan memberi kepastian hukum dalam pengelolaan pembangunan kelautan. Oleh karena itu, sudah saatnya sekarang ini diperlukan perubahan visi pembangunan nasional dari visi daratan (kontinental) menjadi visi Indonesia sebagai negara kepulauan. Diperlukan juga sebuah pergeseran paradigma pembangunan yang lebih memahami jati diri bangsa Indonesia sebagai bangsa bahari dan negara kepulauan terbesar di dunia serta memadukan kekuatan ekonomi berbasis darat dan laut sebagai sinergi kekuatan ekonomi nasional .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar